Arsip untuk Mei, 2007

Selamat datang kawan

Pelantikan anggota baru angkatan XXII

Mapala Justitia baru saja melantik 5 orang anggota baru yang telah menyelesaikan berbagai tahapaan untuk menjadi anggota penuh Mapala Justitia dan berhak menyandang nomor anggota resmi Mapala Justitia Fak Hukum Unlam.

pict0008.jpg

Mereka tersebut adalah

 

  1. Citranu MJFH 07/2120146/XXII
  2. Agil MJFH07/2120147/XXII
  3. Yudha P. MJFH07/2120148/XXII
  4. Adi MJFH07/2120149/XVII
  5. Widya MJFH07/2120150/XVII

 

Pelantikan itu sendiri dihadiri oleh Dekan dan pembantu dekan tiga Fakultas hukum dan dilantik pula oleh Dekan Fakultas Hukum Unlam Ibu Rosita saifudin SH.

    Semoga para anggota teranyar dari Mapala Justitia dapat semakin memacu kemajuan Mapala Justitia ke arah yang lebih baik di masa depan.Pelantikan yang dilaksanakan di ruangan divisi mountainering sekretariat Mapala Justitia itu juga dihadiri dari perwakilan ukm yang ada di lingkungan fakultas hukum Unlam, dan kawan2 pecinta alam di Banjarmasin.

pict0014.jpg

pict0016.jpg

Komentar (3) »

LINDUNGI WARISAN KITA

Mungkinkah anak cucu kita masih bisa melihat pohon-pohon besar, atau paling banter cuma pohon lombok di depan rumah?

pertahankan dan lindungi hutan dan seluruh isinya, sekarang juga!

pict0111.jpg

Komentar (3) »

ARUNG JERAM YUK !

 

 

ARUNG JERAM YUK !

 

Arung jeram adalah kegiatan yang membutuhkan kemampuan fisik dan mental karena adanya tantangan alam. Tentu ada aspek rekreasi karena lokasinya berada di daerah yang masih hijau dan asri. Anda bisa menikmati pemandangan dan suasana yang tenang. Arung jeram juga biasanya dilakukan beramai-ramai.

Secara emosional, berarung jeram bisa merupakan sarana untuk melepaskan stres. Bila belum pernah melakukannya, perasaan Anda akan bercampuk aduk antara takut, tegang, dan penasaran. Setelah merasakan serunya perjalanan mengarungi arus deras sungai, yang terasa adalah sensasi yang menyenangkan.

Ketika melintasi jeram, Anda akan berteriak keras, seolah-olah terlepas dari semua masalah. Anda pun akan merasa excited dan stres yang membebani pikiran akan hilang. Bahkan, sekali mengarungi jeram, Anda pasti akan ketagihan. Mengapa? Seperti olah raga lain, arung jeram bagus dari segi kesehatan. Berarung jeram dapat

meningkatkan kemampuan atau kapasitas jantung dan paru-paru, kekuatan dan daya tahan otot, serta fleksibilitas sendi bahu dan pinggang. Manfaatnya, tubuh bisa merasa lebih bugar.

Arung jeram sebagai wisata mulai dikenal di Indonesia pada pertengahan dekade 90-an. Sebelumnya kegiatan ini lebih banyak dilakukan para pencinta alam. Tak ayal, muncul kesan bahwa arung jeram hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah ahli dan berpengalaman. Namun pada dasarnya olahraga arung jeram bisa dilakukan siapa saja tentu saja dengan persyaratan tertentu yang tentu saja untuk menjaga keselamatan orang itu sendiri.

MEMINIMALISIR RISIKO

Bermain arung jeram memang membutuhkan keberanian tersendiri. Risiko berarung jeram antara lain jatuh, terbentur batu, tersangkut ranting, jatuh ke dalam jeram, tergulung pusaran air, sampai hanyut. Tetapi jangan takut, dengan persiapan yang baik serta memahami bagaimana berarung jeram dengan baik dan aman maka hal tersebut dapat dikurangi resikonya.

Waktu yang direkomendasikan untuk berarung jeram adalah saat musim hujan hampir berakhir (sekitar bulan Februari atau Maret). Jika melakukannya pada awal musim hujan, debit air sungai tidak menentu. Bila ada air besar dari hulu sungai, pengarungan harus ditunda. Sedangkan pada pertengahan musim hujan, debit air rata-rata besar. Arung jeram sama sekali tidak boleh dilakukan pada saat air besar.

Jadi, kalau Anda berniat mencoba berarung jeram, akhir pekan ini adalah waktu yang cocok.

 

SIAPA YANG TIDAK BOLEH BERARUNG JERAM?

Baru sembuh dari sakit atau baru dirawat di rumah sakit

Cedera pada tangan dan bahu

Penderita epilepsi yang bisa kambuh saat stres atau panik

Asma tipe exercise induced (asma yang timbul saat olah raga)

Orang yang memiliki riwayat penyakit yang membahayakan, misalnya hipertensi berat, penyakit jantung

PERSIAPAN ARUNG JERAM

Tidak ada pakaian khusus, tapi jangan pakai jins karena akan memberatkan jika terkena air. Pilih yang ringan, tidak menyerap air, dan tidak menyulitkan gerakan di air

Sepatu juga tidak perlu jenis khusus, tapi sebaiknya gunakan sandal gunung, atau sepatu kets yang tidak licin dan ringan

Makan dulu minimal dua jam sebelumnya. Jangan terlalu banyak karena bisa muntah jika sering mengalami goncangan di perahu. Makan cukup kalori, supaya bertenaga

Sebelumnya lakukan peregangan otot bahu dan lengan untuk menghindari cedera otot atau kram. Setengah jam cukup

Setiap petunjuk harus dipahami dengan benar

TIPS

Banyak minum meski tidak haus karena tubuh akan banyak berkeringat

Bawa snack untuk menggantikan kalori yang terbuang

Gunakan sunblock untuk mengatasi sengatan matahari

Bawa obat-obatan, terutama untuk cedera, misalnya bidai, obat luka, obat pelemas otot

Jangan panik apapun yang terjadi, karena akan menyusahkan tim

 

Berikut tadi adalah tips-tips kecil untuk berarung jeram dengan baik dan aman. Namun untuk mengetahui serta berlatih arung jeram sebaiknya harus didampingi oleh seseorang yang ahli dan memiliki pengalaman.

Disuting oleh tim divisi wild water sport MAPALA JUSTITIA FH UNLAM

 

Komentar (2) »

Etika Penelusuran Gua

Etika Penelusuran Gua

 

Penelusuran adalah hobi yang mengasyikkan. Ada perasaan yang tak bisa dilukiskan saat kita melakoninya. Tiap kali gua berhasil ditelusuri, ada banyak cerita yang bisa ditularkan. Dari situ bukan cuma kebanggaan tapi selalu memancing kerinduan untuk kembali lagi. Namun kita juga harus ingat, ada etika yang harus dipenuhi saat menelusuri gua.

Penelusuran gua merupakan kegiatan kelompok. Itu sebabnya dalam setiap penelusuran tidak dibenarkan seorang diri. Jumlah minimal untuk sebuah kegiatan eksplorasi gua adalah empat orang. Ini didasarkan pada faktor keamanan, jika terjadi kecelakaan pada seorang anggota kelompok, satu orang dibutuhkan untuk menjaganya. Sedang dua anggota lainnya menyiapkan pertolongan (rescue), atau kalau tidak mungkin, cari pertolongan kepada penduduk.

 

Sebelum memasuki gua, yang harus dilakukan adalah meninggalkan pesan kepada orang lain tentang tujuan gua yang akan dimasuki, jumlah penelusur, lama kegiatan, bagian gua yang akan dimasuki, dan lain-lain. Lalu tinggalkan seorang pengamat di luar gua.
Orang ini akan sangat berguna untuk memberi peringatan, jika terjadi sesuatu di luar gua, misalnya hujan lebat yang dapat mengakibatkan banjir dalam gua. Kalau tidak mungkin, pelajarilah keadaan cuaca terakhir di daerah tersebut, juga disiplin waktu yang ditetapkan.

 

Hal lain yang harus diperhatikan, yaitu membawa makanan dan minuman. Paling penting kondisi badan harus selalu fit di saat melakukan penelusuran gua. Sikap yang baik, menyadari kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk menelusuri gua, jika kondisi atau kemampuan tidak memungkinkan.

Satu hal yang harus diresapi dan disadari oleh setiap penelusur gua yaitu masalah “konservasi”. Jangan mengambil apa pun, jangan meninggalkan apa pun dan bunuh apa pun. Setiap buangan yang ditinggalkan akan merusak lingkungan biologis gua yang sangat rapuh, misalnya sampah karbit. Bawalah semua sampah ke luar gua dan buang ke tempat pembuangan sampah.

Setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh penelusur adalah tindakan tercela, karena untuk merusakkan benda-benda dalam gua misalnya stalagmit dan stalagtit hanya butuh beberapa detik saja, sedangkan proses pembentukan benda-benda tersebut membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun.

Jika prinsip-prinsip tersebut disadari dan dilaksanakan oleh para penelusur gua, maka semboyan: “Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time”, terasa semakin berarti.

 

Disunting oleh Divisi Caving MAPALA JUSTITIA FH UNLAM.

Komentar bertahan »

SEPOTONG KISAH DI GUNUNG BESAR

SEPOTONG KISAH DI GUNUNG BESAR
Lokasi : Desa Hinas Kiri, Kec. Batang Alai Timur 1-7 April 2007
Gunung : Besar
Puncak : Halau-Halau Laki
Ketinggian : 1986 Mdpl
Oleh : MJFH 116

 

Pendakaian tanpa persiapan yang matang ibarat wanita datang bulan tanpa pembalut. Persiapan yang matang memang sangat akan berarti ketika pada saat pendakian. Kondisi fisik yang prima dan mental yang kuat disertai pengetahuan medan yang didaki akan sangat membantu dalam setiap kesuksesan suatu pendakian.

 

MAPALA JUSTITIA memulai jejaknya di desa Batu Kambar ketika Matahari mulai jenuh di peraduannya, cuaca yang kurang bersahabat dengan turunnya hujan yang lumayan deras menambah lengkap melodi pendakian. Seiring dengan lenyapnya Matahari, MAPALA JUSTITIA akhirnya sampai di desa terakhir desa Kiyu. Balai LPMA (LSM Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat) menjadi saksi bisu dengkuran dan liur basi di saat malam menyelimuti lelap para pendaki.
Dengan perasaan cinta yang semakin membathin dalam jiwa untuk menaklukkan sukma penggetar jiwa puncak halau-halau, ketika Matahari mulai menebarkan cahaya kehidupannya MAPALA JUSTITIA langsung angkat belahan jiwa di pundaknnya, untuk kembali melangkah melakukan pendakian sesuai dengan yang direncanakan dalam Manajemen Perjalanan. Sungai Karuh adalah lokasi Base Camp utama yang harus dicapai hari ini. Medan yang lumayan tanjakan, lumayan turunan, lumayan panas, lumayan jauh, lumayan berat, menjadikan pendakian semakin lumayan istirahat, lumayan capek, lumayan tidur, lumayan murah, lumayan senyum, namun keadaan yang serba lumayan ini terbayarkan dengan pemandangan alam bebas yang hanya bisa diungkapkan oleh insan manusia yang terbalut dalam emosi cinta jingga. Banyak daerah yang dulunya merupakan hunian pohon-pohon besar menjadi tumbang dan jadi tanah lapang untuk dijadikan kebun oleh masyarakat sekitar (Dayak Meratus) yang dilalui dalam pendakian ini. Akhirnya setelah sekian lama berjalan MAPALA JUSTITIA pun tiba di Puncak Tiranggang dari sini sudah terlihat Puncak Halau-Halau target dari pendakian, ini berarti pendakian sudah separo jalan menuju Base Camp (Sungai Karuh). Konon menurut cerita dan menjadi legenda para pendaki apalagi anak-anak Pecinta Alam Kal-Sel, puncak ini adalah tempat bersemayamnya dewi Jebreti dan dewa Fhotosi, sehingga para pendaki disini langsung tidak sadar diri dan kemudian berphoto-photo untuk sekedar mengambil gambar dirinya, alias HIMAGIPO (Himpunan Mahasiswa Gila Photo), apalagi yang rambutnya gondrong hati-hati ditempat ini.
Kondisi fisik yang prima akan diuji di medan yang akan dilalui ini, karena banyak para Pendaki yang hilang keseimbangan (balance) atau bahkan hilang kesadaran dikarenakan dia akan asyik main perosotan, maklum masa kecil kurang bahagia. Yakni, medan yang dominan turunan nya, jadi dibutuhkan kondisi lutut yang sehat, pangkal paha yang berotot, dan juga harus memiliki kesimbangan tubuh yang bagus, selain itu syarat yang harus dilengkapi para pendaki untuk menaklukkan medan ini adalah; wajah yang lumayan, sifat suka menabung, rajin membaca, berbakti kepada kedua orang tua. Dan juga photocopy KTP 2 lembar, minimal lulusan SLTA atau sederajat, punya kendaraan sendiri, siap ditempatkan dimana saja, pengalaman tidak diutamakan, berpenampilan menarik, penghasilan diatas UMR, jadi bagi Pria + Wanita yang berminat silahkan langsung hubungi MAPALA JUSTITIA.

 

Langkah kaki yang semakin lambat, disertai cuaca yang hampir hujan menambah keasyikan tersendiri dalam pendakian yang dilakukan, hujan pun turun pelan-pelan, di kebun Mak Asih, kebun kaki semakin perih.
Tibanya di Base Camp. Sungai Karuh pendakian pun berhenti, disini tempat istirahat untuk menambah stamina yang sudah lumayan terkuras. Perlunya tambahan energi setelah 1 hari penuh melakukan pendakian. Memasak, makan, merokok, adalah kebiasaan yang dilakukan para Pendaki pada saat istirahat untuk menambah stamina. Namun pada saat ini bagi MAPALA JUSTITIA adalah moment yang paling tepat dikala minum kopi bersama orang yang dicintai. Di tempat ini ada pondok Kai Arpun Alm. yang dijadikan tempat untuk menginap para pendaki, dari sini akan terdengar suara gemiricik air terjun Sungai Karuh (Gusdur).
Dedaunan yang sabar menanti embun datang dikala pagi hari cukup menambah keunikan para penonton aksi MAPALA JUSTITIA untuk berangkat menuju Penyaungan Camp sebagai camp terakhir dalam pemdakian untuk menaklukkan Puncak Halau-Halau. Laksana Petir!! itulah mungkin kata-kata yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi medan yang akan dilalui pada pendakian rute ini. Dengan tanjakan yang cukup membuka mata hati, ditambah dengan binatang yang suka menghisap darah (pacat Halimatak/pacat tentara atau liya-liya) menambah tantangan dalam pendakian ini. Jumantir adalah sumber air yang akan dilalui dalam pendakian jalur ini, disinilah biasanya para pendaki mengisi air untuk bekal diperjalanan. Selama dalam pendakian hujan turun sangat deras, semakin menambah lambat pendakian yang dilakukan. Ketinggian semakin bertambah, dan jantung pun akan semakin berdetak dengan kencang seperti genderang mau perang, dikarenakan udara yang semakin dingin hingga menyentuh tulang. Kira-kira 5 jam pendakian, sampailah MAPALA JUSTITIA pada penyaungan camp.

 

Bersambung…………….!!!!!

NB : Cerita ini dibuat ketika baru bangun tidur dalam keadaan tidak sadar dan terpaksa, tertekan, terinjak, jadi harap maklum si pembuat cerita ini masih dalam keadaan yang direndam, diguling, merayap, push-up dan kondisi setengah sadar.

Komentar (11) »