Global warming aka pemanasan global

29 08 2007

Global warming atau pemanasan global

    Apa sih pemanasan global yang sering sekali terdengar akhir akhir ini kami akan sedikit menyajikannya,Global warming aka pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.

Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8 derajat Celsius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 – 100 cm (4 – 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global ini sangat besar sehingga ilmuan-ilmuan ternama dunia menyerukan perlunya kerjasama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini.

Globang warming berpengaruh ke dalam sendi kehidupan di dunia termasuk cuaca, dimana sekarang cuaca sangat sulit diprediksi bahkan seperti bergeser dari tahun ke tahun, berikut adalah artikel dari kompas yang membahas mengenai pengaruh global warming terhadap cuaca di Indonesia termasuk KAL-SEL

CUACA
Gelombang Juga Dipengaruhi Pemanasan Global

SEMARANG, KOMPAS – Badan Meteorologi dan Geofisika atau BMG Jawa Tengah menilai gelombang tinggi yang melanda pesisir selatan Jawa Tengah dan limpasan air laut ke daratan di pesisir utara Jawa Tengah, diakibatkan pergerakan arus laut dari selatan ke utara. Pergerakan itu dipengaruhi gaya tarik Matahari dan Bulan terhadap Bumi, serta pemanasan global.
“Saat ini posisi Matahari berada di utara ekuator. Gaya tarik Matahari itu membuat arus laut bergerak dari selatan ke utara dan mengumpul di sekitar ekuator. Gerakan itu juga dipengaruhi pergerakan 18 tahunan Bulan terhadap Bumi. Saat ini, Bulan berada dalam posisi paling dekat dengan Bumi,” kata Kepala BMG Jateng Mochammad Chaeran, di Semarang, Sabtu (19/5).
Menurut Chaeran, gerak arus laut ke utara itu membuat ketinggian gelombang di pesisir selatan di atas 2,5 meter dan di pesisir utara di atas 1,25 meter. Gerak arus laut yang merupakan siklus rutin tahunan ini memengaruhi ketinggian gelombang di pesisir utara karena arus laut dari pesisir selatan mengalir melalui Selat Bali dan Selat Sunda menuju Laut Jawa.
Tahun ini, pergerakan itu menjadi luar biasa karena pengaruh pemanasan global. Misalnya, di Kota Semarang, sejak Januari 2006, Stasiun Klimatologi Kota Semarang mencatat, suhu di Kota Semarang cenderung naik 0,2 – 0,5 derajat Celsius, bahkan bisa mencapai satu derajat Celsius.
“Dampaknya, permukaan air laut meningkat dan limpahan air laut ke darat semakin tinggi, seperti terjadi di kompleks Pelabuhan Tanjung Mas dan permukiman pesisir,” ujar dia.
Chaeran mengatakan, situasi ini akan terjadi selama dua minggu. Untuk itu warga permukiman daerah pesisir radius dua kilometer dari pantai harus waspada. Gelombang dan limpasan air laut tinggi bisa datang sewaktu-waktu, bisa siang hari dan malam hari.
Para nelayan berperahu kecil baik di daerah pesisir selatan maupun utara, kata Chaeran, perlu berhati-hati saat melaut. Mereka harus memerhatikan arus dan permukaan laut. Jika arus cepat dan permukaan tinggi, sebaiknya nelayan tidak usah melaut dulu.
Terus ke Makassar
Menurut Manajer Badan Penilaian dan Penerapan Teknologi Sistem Geologi dan Laboratorium Mitigasi Bencana Badang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Fadli Syamsuddin, gelombang tinggi yang terjadi beberapa hari ini adalah gelombang Kelvin yang periodenya 30-90 hari.
Fadli menambahkan, gelombang ini akan menjalar ke Selat Makassar merambat dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Di khatulistiwa, gelombang ini bergerak ke timur sesuai karakteristiknya, menuju ke Pulau Sulawesi. Ketika mencapai pantai Sulawesi gelombang terpecah dua—ke utara dan ke selatan.
Di belahan bumi utara, daratan berada di sebelah kanan gelombang. Gelombang akan terus menjalar ke Sulawesi Utara, lalu menjalar ke timur. “Kalau energinya cukup besar bisa sampai Teluk Tomini,” ujar Fadli.
Gelombang yang menjalar ke selatan, posisinya di sebelah kanan daratan Sulawesi. Gelombang ini bisa menjalar hingga melewati Makassar.
Fadli menambahkan, fenomena gelombang Kelvin ini bisa saja ini diperkuat oleh faktor lain. “Misalnya ada anomali sistem angin regional,” katanya.
Dia mengingatkan, pada bulan Mei 1997 juga terdeteksi munculnya gelombang Kelvin yang memasuki wilayah Indonesia dari barat hingga ke timur dengan jalur serupa yang diikuti kekeringan di Indonesia.
“Karena ini merupakan indikasi akan terjadi fenomena Indian Ocean Dipole fase positif yang dampaknya adalah kekeringan di Indonesia,” katanya. (AB4/Isw)

Kalau sudah begini bagaimana? apakah para perusahaan kayu dan para penambang rakus beserta para pejabat korup yang maunya enak sendiri itu akan mau bertanggung jawab?…??. Mudah mudahan mereka sadar bahwa mereka juga tinggal di bumi dan bukan di planet lain kecuali mereka mau pindah ke mars.

(MJFH Dari berbagai Sumber). 





Eksploitasi Tambang Rusak Lingkungan

22 08 2007

Eksploitasi Tambang Rusak Lingkungan

    Kerusakan lingkungan kembali menuai bencana. Banjir yang melanda tiga kabupaten di Kalimantan Selatan, kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru, pada pertengahan Juni lalu diduga akibat penambangan batubara di kawasan hutan dan maraknya penebangan liar. Akibat banjir produksi listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam anjlok dan ribuan warga menderita.
Penebangan kayu di Kalimantan Selatan mulai marak tahun 1970-1980-an, tiga kabupaten tersebut dijadikan sebagai tempat pesta tebang kayu oleh pemegang HPH. Pembalakan belum selesai, pertambangan batubara ilegal mulai marak tahun 1985, bahkan sampai merambah kawasan hutan. Aktivitas tersebut membuat area tangkapan air rusak dan akhirnya mengakibatkan banjir. Hutan yang semakin kritis dan banyaknya bekas lubang tambang yang dibiarkan menganga juga menjadi salah satu penyebab berkembangnya nyamuk anopheles, pembawa malaria Di Kalimantan Selatan, serangan malaria dalam 5 bulan terakhir membuat 20 orang meninggal.

Setelah pertambangan merambaha kawasan hutan di Kalimantan Selatan, saat ini sekitar 61.707 hektar hutan lindung di kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan terancam penambangan emas. Sebagian besar kawasan eksplorasi adalah kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air untuk daerah aliran sungai.

Kerusakan lingkungan akibat pertambangan juga terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Pengerukan pasir, batu dan kerikil secara besar-besaran oleh sejumlah perusahaan tambang merusak sumber-sumber mata air di daerah itu. Akibatnya terjadi krisis air, apalagi saat musim kemarau. Selain kehilangan sumber air, warga sekitar pertambangan juga kehilangan mata pencaharian yang telah dilakoni turun-temurun, yaitu menambang pasir, batu dan kerikil secara tradisional.
Sumber G help

Sumber:
Tambang Emas Merambah Hutan Lindung (Kompas, 5 Juni 2007)
Malaria di Kalsel, 20 Orang Meninggal (Kompas, 13 Juni 2007)
Banjir Akibat Eksploitasi Tambang (Media Indonesia, 18 juni 2007)
Tambang Pasir di Donggala Merusak Mata Air (Kompas, 19 Juni 2007)
Lubang-lubang Besar Pembawa Bencana (Kompas, 22 Juni 2007)





Dirgahayu RI

12 08 2007

images-ri.jpg

KELUARGA BESAR MAPALA JUSTITIA FAKULTAS HUKUM UNLAM MENGUCAPKAN

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE 62

17 AGUSTUS 1945 —————————————- 17 AGUSTUS 2007

SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! SEMOGA SEMAKIN LAMA KITA MERDEKA TIDAK SEMAKIN RUSAK ALAM LINGKUNGAN NUSANTARA.

      Pjs. KETUA UMUM                                                     SEKRETARIS UMUM

                                          

 

       FARID AHMAD                                                     CHISTAN JEFRY PANJAITAN

MJFH : 03/2120116/XVIII                                             MJFH : 06/2120144/XXI

images-3.jpg





Selamat dan Sukses

10 08 2007

Kami Mapala Justitia mengucapkan selamat dan sukses kepada anggota kami yaitu

Kanda Rudi Sanjaya Alias Pentol (MJFH 03/2120118/XVIII)

Yang telah menyelesaikan sidang skripsinya dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) Dari Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat.

Semoga Sukses selalu.

Nb : Akhirnya Lulus jua si buntal ngeneh By Warix.

a.jpg





Lima Kabupaten di Kalsel Masuk Kawasan Kritis

6 08 2007

Lima Kabupaten di Kalsel Masuk Kawasan Kritis

Banjarmasin, Kalsel, Lima kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsel) masuk kawasan kritis lingkungan akibat kerusakan hutan yang cukup parah sebagai dampak penebangan hutan dan pertambangan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Kalsel), Ir. Suhardi, Sabtu, mengungkapkan, lima kabupaten yang masuk kawasan ktitis yaitu, Kabupaten Banjar, Tanah Laut (Tala), Tabalong, Hulu Sungai Utara (HSU) dan Tapin.

Menurutnya, kerusakan lingkungan yang kritis tersebut baru bisa diperbaiki minimal dalam waktu 10 tahun, karena penanaman pohon melalui gerakan rehabilitasi kehutanan (Gerhan) memerlukan waktu tumbuh selama 10 tahun.

“Artinya, banjir yang sering menimpa ke lima kabupaten itu dan berimbas ke kabupaten lain, baru bisa teratasi secara maksimal setelah 10 tahun,” katanya.

Ttidak semua daerah sanggup melaksanakan proyek gerhan yang dimulai tahun 2003 dengan maksimal karena kondisi alam yang sulit seperti penanaman pohon di kawasan gambut dan terbatasnya sumber daya manusia (SDM), kendati dana yang disiapkan pemerintah cukup besar.

Contohnya, di Kabupaten HSU, sebagian besar kawasan yang ditanami gerhan berupa gambut dan rawa sehingga penanganannya memerlukan teknik tertentu yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Kabupaten Banjar merupakan kawasan paling kritis dan harus segera mendapatkan penanganan secara serius terutama di kawasan resapan air Riam Kiwa dan Riam Kanan.

Di lokasi yang menjadi langganan banjir tersebut kini kondisinya cukup memprihatinkan, bukan hanya pohon-pohon besar yang dulu berada di daerah tersebut telah habis ditebang, namun ilalang yang sebenarnya juga mampu menahan luapan air juga sudah dibabat.

“Sebenarnya kendati tidak ada pohon, ilalangpun masih mampu menjadi kawasan resapan air, tapi di daerah tersebut sudah gundul, akibat kegiatan tambang dan penebangan hutan,” katanya.

Apalagi tambah Suhardi, pohon-pohon di hutan yang berada di kawasan lebih atas juga telah gundul, sehingga air hujan langsung menyebabkan banjir.

Mengatasi kondisi tersebut, Pemkab Banjar telah memprioritaskan kegiatan gerhan di daerah itu, namun tetap memerlukan waktu cukup lama karena menunggu pohon-pohon yang ditanam tumbuh dan berfungsi menahan luapan air.

Di Kabupaten Tapin dan Tala saat ini kondisinya juga cukup kritis, sehinga harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. “Di Tala saat ini kerusakan hutan juga sangat parah, sehingga banjir yang berulang kali terjadi sulit untuk diatasi.

pict0052.jpg
(Dari berbagai sumber, MJFH)

Hentikan pembebasan lahan sekarang juga. Kembalikan apa yang secara layak adalah hak kami. Hargailah Budaya dan Warisan Leluhur Kami. Jika Kamu memutuskan untuk tidak mendengarkan permintaan kami, kami akan melindungi kehidupan dan penghidupan kami. Kami adalah kaum yang cinta damai. Tetapi jika hidup terancam, kami akan melawan.”