SEPOTONG KISAH DI GUNUNG BESAR

SEPOTONG KISAH DI GUNUNG BESAR
Lokasi : Desa Hinas Kiri, Kec. Batang Alai Timur 1-7 April 2007
Gunung : Besar
Puncak : Halau-Halau Laki
Ketinggian : 1986 Mdpl
Oleh : MJFH 116

Pendakaian tanpa persiapan yang matang ibarat wanita datang bulan tanpa pembalut. Persiapan yang matang memang sangat akan berarti ketika pada saat pendakian. Kondisi fisik yang prima dan mental yang kuat disertai pengetahuan medan yang didaki akan sangat membantu dalam setiap kesuksesan suatu pendakian.

MAPALA JUSTITIA memulai jejaknya di desa Batu Kambar ketika Matahari mulai jenuh di peraduannya, cuaca yang kurang bersahabat dengan turunnya hujan yang lumayan deras menambah lengkap melodi pendakian. Seiring dengan lenyapnya Matahari, MAPALA JUSTITIA akhirnya sampai di desa terakhir desa Kiyu. Balai LPMA (LSM Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat) menjadi saksi bisu dengkuran dan liur basi di saat malam menyelimuti lelap para pendaki.
Dengan perasaan cinta yang semakin membathin dalam jiwa untuk menaklukkan sukma penggetar jiwa puncak halau-halau, ketika Matahari mulai menebarkan cahaya kehidupannya MAPALA JUSTITIA langsung angkat belahan jiwa di pundaknnya, untuk kembali melangkah melakukan pendakian sesuai dengan yang direncanakan dalam Manajemen Perjalanan. Sungai Karuh adalah lokasi Base Camp utama yang harus dicapai hari ini. Medan yang lumayan tanjakan, lumayan turunan, lumayan panas, lumayan jauh, lumayan berat, menjadikan pendakian semakin lumayan istirahat, lumayan capek, lumayan tidur, lumayan murah, lumayan senyum, namun keadaan yang serba lumayan ini terbayarkan dengan pemandangan alam bebas yang hanya bisa diungkapkan oleh insan manusia yang terbalut dalam emosi cinta jingga. Banyak daerah yang dulunya merupakan hunian pohon-pohon besar menjadi tumbang dan jadi tanah lapang untuk dijadikan kebun oleh masyarakat sekitar (Dayak Meratus) yang dilalui dalam pendakian ini. Akhirnya setelah sekian lama berjalan MAPALA JUSTITIA pun tiba di Puncak Tiranggang dari sini sudah terlihat Puncak Halau-Halau target dari pendakian, ini berarti pendakian sudah separo jalan menuju Base Camp (Sungai Karuh). Konon menurut cerita dan menjadi legenda para pendaki apalagi anak-anak Pecinta Alam Kal-Sel, puncak ini adalah tempat bersemayamnya dewi Jebreti dan dewa Fhotosi, sehingga para pendaki disini langsung tidak sadar diri dan kemudian berphoto-photo untuk sekedar mengambil gambar dirinya, alias HIMAGIPO (Himpunan Mahasiswa Gila Photo), apalagi yang rambutnya gondrong hati-hati ditempat ini.
Kondisi fisik yang prima akan diuji di medan yang akan dilalui ini, karena banyak para Pendaki yang hilang keseimbangan (balance) atau bahkan hilang kesadaran dikarenakan dia akan asyik main perosotan, maklum masa kecil kurang bahagia. Yakni, medan yang dominan turunan nya, jadi dibutuhkan kondisi lutut yang sehat, pangkal paha yang berotot, dan juga harus memiliki kesimbangan tubuh yang bagus, selain itu syarat yang harus dilengkapi para pendaki untuk menaklukkan medan ini adalah; wajah yang lumayan, sifat suka menabung, rajin membaca, berbakti kepada kedua orang tua. Dan juga photocopy KTP 2 lembar, minimal lulusan SLTA atau sederajat, punya kendaraan sendiri, siap ditempatkan dimana saja, pengalaman tidak diutamakan, berpenampilan menarik, penghasilan diatas UMR, jadi bagi Pria + Wanita yang berminat silahkan langsung hubungi MAPALA JUSTITIA.

Langkah kaki yang semakin lambat, disertai cuaca yang hampir hujan menambah keasyikan tersendiri dalam pendakian yang dilakukan, hujan pun turun pelan-pelan, di kebun Mak Asih, kebun kaki semakin perih.
Tibanya di Base Camp. Sungai Karuh pendakian pun berhenti, disini tempat istirahat untuk menambah stamina yang sudah lumayan terkuras. Perlunya tambahan energi setelah 1 hari penuh melakukan pendakian. Memasak, makan, merokok, adalah kebiasaan yang dilakukan para Pendaki pada saat istirahat untuk menambah stamina. Namun pada saat ini bagi MAPALA JUSTITIA adalah moment yang paling tepat dikala minum kopi bersama orang yang dicintai. Di tempat ini ada pondok Kai Arpun Alm. yang dijadikan tempat untuk menginap para pendaki, dari sini akan terdengar suara gemiricik air terjun Sungai Karuh (Gusdur).
Dedaunan yang sabar menanti embun datang dikala pagi hari cukup menambah keunikan para penonton aksi MAPALA JUSTITIA untuk berangkat menuju Penyaungan Camp sebagai camp terakhir dalam pemdakian untuk menaklukkan Puncak Halau-Halau. Laksana Petir!! itulah mungkin kata-kata yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi medan yang akan dilalui pada pendakian rute ini. Dengan tanjakan yang cukup membuka mata hati, ditambah dengan binatang yang suka menghisap darah (pacat Halimatak/pacat tentara atau liya-liya) menambah tantangan dalam pendakian ini. Jumantir adalah sumber air yang akan dilalui dalam pendakian jalur ini, disinilah biasanya para pendaki mengisi air untuk bekal diperjalanan. Selama dalam pendakian hujan turun sangat deras, semakin menambah lambat pendakian yang dilakukan. Ketinggian semakin bertambah, dan jantung pun akan semakin berdetak dengan kencang seperti genderang mau perang, dikarenakan udara yang semakin dingin hingga menyentuh tulang. Kira-kira 5 jam pendakian, sampailah MAPALA JUSTITIA pada penyaungan camp.

Bersambung…………….!!!!!

NB : Cerita ini dibuat ketika baru bangun tidur dan kondisi setengah sadar.

11 thoughts on “SEPOTONG KISAH DI GUNUNG BESAR”

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s