SOSIOLOGI DESA BELANGIAN KAB. BANJAR


SALAM LESTARI !

Naik gunung memang melelahkan tetapi apabila kita sudah menapaki puncaknya lain hal lagi, di mana saat kita berada di atas puncak di situlah kita merasa bahwa manusia memang kecil, tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Keelokan Bumi di Indonesia memang tidak diragukan lagi, salah satu karunia Tuhan kepada bangsa ini salah satunya adalah Hutan Lindung Kahung yang terletak di desa Belangian kecamatan Aranio Kabupaten Banjar. Perjalanan tersebut diitempuh dengan menggunakan kelotok atau kapal kecil sekitar dua jam perjalanan dari pelabuhan Riam Kanan. Naik gunung belum lengkap rasanya kalau belum melakukan Sosiologi Pedesaan, hal tersebut dilakukan agar kita dapat mengetahui mengenai sejarah, mata pencaharian, religi yang dianut, pendidikan, sistem pemerintahan, kebudayaan dan sebagainya. Tulisan kecil ini walaupun tidak secara lengkap mengulas mengenai profil Desa Belangian, tetapi paling tidak dapat memberikan sedikit wawasan atau pengetahuan umum tentang desa tersebut.

* SEJARAH DAN LATAR BELAKANG DESA BELANGIAN

Desa ini terletak di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar, Tempatnya terpencil dan dikelilingi oleh perbukitan serta jumlah penduduknya bisa dibilang tidak terlalu besar. Menurut cerita masyarakat setempat desa Belangian pada mulanya adalah tempat menetap para pendulang emas yang dulunya banyak terdapat disana, karena tempat pendulangan itu jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka dan untuk memudahkan mereka menjual hasil tambang tersebut, maka para pendulang tersebut berinisiatif untuk membuat suatu pemukiman yang pada awalnya hanya khusus untuk para pendulang. Kemudian para pendulang turut membawa serta keluarganya dan terus berkembang hingga akhirnya tempat pemukiman itu menjadi besar dan tidak hanya terbatas pada tempat berteduh sederhana, tetapi mulai berkembang menjadi tempat tinggal yang lengkap layaknya ada pada sebuah rumah.

Seiring berjalannya waktu, pemukiman tersebut berkembang menjadi desa kecil. Keakrabanpun terjalin antara keluarga pendulang emas dan bahkan jumlah orang yang tinggal disana bertambah bukan hanya dari kalangan pendulang tetapi juga dari orang-orang yang datang berniaga untuk memenuhi kebutuhan orang-orang disana, seperti penjual kebutuhan sehari-hari. Keakraban yang lama terjalin membuat mereka nyaman tinggal di daerah tersebut, perasaan senasib juga mungkin menjadikan mereka lebih bisa bekerja sama dalam berbagai hal, inilah yang membuat mereka enggan untuk meninggalkan tempat itu walaupun persedian emas sudah menipis dan tidak banyak lagi ditemukan yang membuat penduduk di desa tersebut beralih mata pencaharian lain seperti berladang, berternak ikan dan lain-lain.

Semakin lama kehidupan mereka semakin komplek dan dengan sendirinya susunan sosial masyrakat tercipta secara perlahan dan terjadilah kontrak sosial (contract social) dari masyarakat untuk menentukan pemimpin, dan juga seperti yang kita ketahui bahwa “ibi societas ibi ius’ atau dimana ada masyarakat disitu ada hukum, maka hukum kebiasaan (Adat) maupun hukum positif menjadi pengatur dalam masyarakat.

* Sistem Kehidupan Masyarakat dan Penunjangnya

sistem pemerintahan

Sistem pemerintahan masyarakat desa Belangian pada saat sekarang ini dipimpim oleh seoarang kepala desa atau yang lazimnya disebut Pembakal. Pembakal dipilih setiap lima tahun sekali dan dipilih dengan musyawarah dari seluruh warga dan kalau tidak berhasil dengan musyawarah maka pemilihan langsung dengan suara terbanyak sebagai pemenanglah yang akan dilaksanakan, tapi biasanya hal ini jarang terjadi karena rasa kekeluargaan yang tinggi dan juga perasaan kebersamaan membuat mereka lebih arif dalam menghadapi perbedaan pendapat yang selama ini menjadi ciri masyarakat desa yang pada umumnya masih terkebelakang tapi memiliki semangat kebersamaan yang tinggi yang jarang ditemukan dikota yang kehidupannya lebih komplek dan beragam.

Fungsi Kepala desa atau pembakal disini bukan hanya sebagai perangkat desa yang tertinggi atau pucuk kepala pemerintahan didesa, selain sebagai wakil pemerintah kabupaten di desa yang menjalankan fungsi administrasi desa, pembakal juga berfungsi sebagai pemimpin sosial masyarakat dimana hampir setiap permasalahan dibicarakan dan dimintakan kepada pembakal untuk mencari solusinya, baik persoalaan pribadi maupun masalah bersama, sebagai contoh mengenai permasalahan tanah, disini peran seorang Pembakal sangat dibutuhkan, hal ini membuktikan kedudukan Pembakal sangat dihormati serta disegani sebagai pemimpin.

Sistem pemerintahan di desa Belangian dapat dibilang cukup lengkap terbukti dengan adanya Sekretaris desa dan ketua Rukun Tetangga yang membantu pembakal dalam tugasnya sebagai pemimpin desa.

Sistem Perekonomian

Perekonomian desa Belangian sekarang banyak digerakan oleh sektor perkebunan terutama kacang tanah yang ditanam lumayan jauh dari desa sehingga warga perlu meninggalkan desa selama beberapa hari dalam seminggu untuk mengurusi perkebunan kacang mereka yang dipanen dua kali dalam setahun. Kacang yang telah dipanen kemudian dikumpulkan bersama kacang warga lain untuk dikirim bersama-sama ke pasar tujuan utama penjualan kacang tersebut, yaitu pasar Banjarbaru dan pasar Martapura. Hal ini dilakukan mungkin untuk menghemat biaya angkut yang lumayan mahal sehingga dengan dikirim bersama-sama dapat meringankan biaya pengiriman kacang tanah tersebut. Kacang tanah tersebut dijual dengan harga sekitar Rp.8.000,-/Kg dan kalau panen sedang bagus mungkin saja harga tersebut akan naik, tetapi biasanya mereka menjualnya perkarung kepada pengumpul yang kemudian menjualnya kepada masyarakat luas.

Disamping kacang tanah, juga ada komoditas lain yang juga ditanam dan menjadi mata pencaharian warga yaitu cabe rawit, selain itu masih ada beberapa penduduk yang mendulang emas walaupun tidak banyak dan dikerjakan untuk mengisi waktu luang, juga ada sebagian warga yang berternak ikan atau manangkap ikan, dan sekarang sedang dikembangkan penanaman pohon karet untuk diambil getahnya.

Pasar di desa Belangian hanya ada seminggu sekali yaitu pada hari Kamis, disinilah para warga berbelanja kebutuhan sehari-hari dan juga menjual hasil dari perkebunan meraka.

Sistem Kebudayaan

Masyarakat desa Belangian dalam kebudayaannya sangat terlihat jelas unsur kebudayaan Islam Banjar misalnya saja dalam peringatan maulid Nabi Muhammad tidak jauh berbeda dengan yang biasa kita lihat di kota Martapura dimana nuansa Islam sangat terasa dalam peringatan atau upacara-upacara keagamaan.Pada saat masa panen tiba juga diadakan acara syukuran sebagai rasa terima kasih Kepada Allah SWT.

Walaupun acara-acara seperti itu jarang diadakan tetapi warga sangat antusias dalam mengikutinya selain sebagai peringatan hari-hari besar hal ini juga digunakan sebagai ajang berkumpul dan melepas lelah karena jarang sekali mereka bisa berkumpul dalam suatu acara yang santai.

Sistem Pendidikan

Pada umumnya masyarakat desa Belangian masih tertinggal dalam bidang pendidikan, hal ini disebabkan karena hanya ada satu Sekolah Dasar dan Madrasah setingkat Sekolah Dasar, yang ada dalam desa tersebut sebagai sarana pendidikan serta kurangnya tenaga pengajar juga menjadi kendala yang menyebabkan masih tertinggalnya pendidikan di desa tersebut.

Walaupun masih tertinggal tetapi kesadaran akan pendidikan sudah mulai muncul terbukti dari banyaknya orang tua yang mengirim anaknya untuk melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi dikota-kota besar seperti Martapura dan Banjarbaru. Walaupun sebagian dari mereka masih ada yang beranggapan tidak perlu lagi untuk melanjutkan sekolah karena hanya membuang-buang uang dan pasti akan kembali ke desa dan akan bekerja seperti orang tuanya.

Sistem Perkawinan

Masyarakat desa Belangian seperti kebanyakan masyarakat di Kalimantan selatan mengambil garis keturunan campuran baik dari pihak ayah maupun Ibu (Parental). Biasanya perkawinan terjadi karena suka sama suka walaupun ada yang dijodohkan oleh orang tuanya. Biasanya mereka kawin diumur 18 tahun keatas. Setelah kawin adat mereka menetap dirumah salah satu orang tua mereka sampai mampu membangun rumah sendiri.

Bahasa

Bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat desa belangian adalah bahasa Banjar.

Sistem Kepercayaan

Hampir semua penduduk desa Belangian beragama Islam, terutama dapat dilihat dari masyakat yang kesehariannya banyak bernuansa Islam dan juga terdapat masjid tempat warga masyrakat untuk menjalankan ibadah oleh karena itu islam menjadi agama yang mayoritas karena desa Belangian juga dekat dengan Martapura yang kita tahu sangat kental unsur Islaminya.

Kesehatan

Dalam hal kesehatan masyrakat desa Belangian sudah cukup baik hal ini dibuktikan dengan adanya sarana MCK yang ada di tiap rumah. Walaupun air masih dialirkan dari sungai langsung dan juga air tanah tetapi kebersihannya sudah terjamin.

Di desa Belangian sudah ada bidan yang siap memeriksa kesehatan warga apabila warga sakit, tetapi kesadaran untuk memeriksakan diri dari masyarakat masih kurang, mereka hanya datang memeriksakan diri setelah keadaan benar-benar parah dan jika sudah begini maka akan sulit bagi bidan untuk menangani, untuk itu maka terpaksa bidan membawa pasien ke rumah sakit terdekat di kota Banjarbaru atau Martapura.

Jumlah Penduduk

Jumlah kepala keluarga desa Belangian ada sekitar 60 kepala keluarga dengan asumsi satu kepala keluarga berangotakan 4 orang maka penduduknya ada sekitar 240 orang.

Masyarakat desa Belangian hanya bisa berharap adanya bantuan dari Pemerintah setempat untuk memenuhi fasilitas penunjang seperti listrik, tenaga pengajar dan tenaga medis untuk menunjang kehidupan masyarakat setempat.

Anugerah Tuhan Yang Maha Esa tidak ternilai harganya oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita semua untuk melestarikannya dari sekarang agar generasi yang akan datang dapat menikmatinya. LESTARI ALAMKU !!!

(Bidang Penelitian dan pengembangan Mapala Justitia FH UNLAM)

Iklan

6 thoughts on “SOSIOLOGI DESA BELANGIAN KAB. BANJAR”

  1. tangisan UTG
    3 09 2008

    dalam beberapa sidang terakhir terlihat si UTG menangis. dia sepertinya menyesali sekali apa yang telah terjadi, kini hancur sudah semuanya kata UTG, dia bimbang dengan masa depan anak2nya yang masih kecil. saat mendengar tuntutan 15 tahun penjara UTG semakin galau. dia mengumpamakan hukuman yang diterimanya adalah “supaya kuda-kuda yang lain tidak dicuri” istilah yang dipakai oleh seorang Hakim di inggris yang menghukum mati seorang pencuri kuda. saat itu sang Hakim berkata “kamu dihukum mati bukan karena mencuri kuda, tapi agar kuda-kuda lain tidak dicuri”. kalau di interpretasikan mungkin “dia dihukum bukan karena suap, tapi supaya yang lain jangan menerima suap”

    tapi anehnya ditengah kegalauan dan tangisannya, si UTG tetap berkeras bahwa uang sebesar 6 milyar yang diberikan oleh tante artalyta adalah pinjaman modal untuk bikin bengkel. UTG…UTG… kamu memang muka tembok. ya beginilah Jaksa itu, bermuka dua… ya sama dengan si Hendarman Supandji, berpura-pura sedih dan meneteskan airmata padahal mana mungkin dia ga terlibat dalam penghentian kasus BLBI. Kampret !

    Hukuman 15 tahun belumlah pantas untuk UTG. lihat akibat perbuatan-perbuatan mereka-mereka ini (para koruptor) banyak rakyat yang susah, bahkan bunuh diri karena tak kuat dengan himpitan ekonomi. Dihukum mati pun sebenarnya sangatlah pantas dan sudah saatnya hukum di Indonesia khususnya untuk para koruptor menggunakan istilah “agar kuda-kuda lain tidak dicuri” atau “agar yang lain tidak korupsi / terima suap”

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s