SIARAN PERS BERSAMA

“ADARO TERLALU SERAKAH MENGERUK KEKAYAAN SDA KALSEL”
Kepada MenLH; Hentikan Proses AMDAL  PT.ADARO INDONESIA!!
(Sebagai Respon Atas Pembahasan AMDAL PT ADARO pada hari ini, senin 8 Juni 2009 di Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia)

Kontak Person :
Hegar Wahyu Hidayat (0812 503 981 4)
Direktur Eksekutif
Dwitho Frasetiandy (0856 1831 939)
Manager Kampanye

Adaro merupakan perusahaan terbesar batubara  kedua di Indonesia yang berada di dua area konsesi Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan, memiliki tiga lokasi tambang, yakni; site Tutupan, Paringin, dan Wara dengan luasan area konsesi sebesar 35.800,80 Ha.   Pada tahun 2008, Adaro mencatatkan total produksinya hingga  38 Juta ton – hampir sepertiga dari total produksi Kalsel-  sebuah angka yang sangat fantastis tentunya.  Kemudian dilaporan lainnya, pada triwulan I tahun 2009 ini Adaro juga menyatakan mendapat keuntungan bersih dari eksploitasi batubaranya senilai 1,145 Triliyun rupiah.  Dengan nilai keuntungan tersebut melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RULPS) Adaro menyetujui proposal kenaikan gaji 6 orang dewan komisaris dan 7 orang direksinya dengan jumlah total 40 Milyar rupiah!!

Cukupkah keuntungan yang didapat  tersebut bagi Adaro??… jawabannya ternyata TIDAK.  Rupanya Adaro saat ini berencana menaikan lagi kapasitas produksinya menjadi 42-45 juta ton pada tahun 2009 dan akan terus meningkat lagi hingga 80 juta ton/tahun di tahun 2012.  AMDAL peningkatan kapasitas produksi sudah mulai disusun sejak tahun 2008 tadi dan pada hari ini, senin (8/06’09) di Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia sedang dilakukan rapat terkait pembahasan AMDAL Adaro tersebut.  Arogansi dan keserakahan sebuah investasi yang bernama Adaro dan di fasilitasi oleh Negara sedang dipertontonkan secara gamblang dihadapan public Kalsel.  Mereka tidak perduli dengan keterpurukan ekonomi dan degradasi sumberdaya dan lingkungan yang sedang terjadi dan pastinya akan menjadi mimpi buruk bagi rakyat Kalsel di masa mendatang.

“Sangat miris kita mendengar ditengah penderitaan rakyat Kalsel bahwa ternyata Adaro mampu membayar 13 orang petingginya dengan jumlah 40 Milyar rupiah!!. Padahal  dana sebanyak itu bisa digunakan untuk membayar sekitar 2.012 orang lebih tenaga pendidik baru di Kalsel selama 1 tahun”  ujar Hegar Wahyu Hidayat, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel menanggapi mewahnya fasilitas yang diberikan kepada direksi dan komisaris  Adaro.

Dalam triwulan awal tahun 2009 ini laba adaro mencapai 1,145 trilyun rupiah atau naik 9179,21% di bandingkan dengan tahun lalu yaitu 12, 478 milyar rupiah, jumlah kenaikan yang sangat luar biasa tentunya.  Laba bersih diperoleh Adaro hanya dalam kurun waktu tiga bulan tersebut saja sudah hampir menyamai dana APBD Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2008 yang berkisar 1,8 trilyun rupiah. Sebuah perbandingan yang sangat jauh dari rasa keadilan tentunya dan juga sangat ironis, sehingga sangat tidak adil jika sumber daya alam kalsel yang terus dikuras habis namun kesejahteraan masyarakat disekitar tambang mereka justru berbanding terbalik dengan apa yang mereka dapatkan dari keuntungan mereka. Suatu kenyataan yang menyakiti hati masyarakat, apalagi selama ini mereka juga yang menerima dampak dari pertambangan batubara.

Padahal dengan potensi sumber daya alam yang ada seharusnya dapat memberikan manfaat bagi 3 juta lebih masyarakat Kalsel, selama ini kekayaan alam tersebut tidak dikelola dengan baik dan benar, pengelolaan sumber daya alam tidak mengindahkan kaidah dan prinsip-prinsip lingkungan, HAM dan keadilan. Hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok dan segelintir orang namun dampak negatifnya dirasakan oleh hampir seluruh masyarakat di sekitar tambang mereka, benar saja memang perusahaan mengeluarkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) tapi apa yang mereka berikan kepada masyarakat tidak pernah sebanding dengan kerusakan yang akan ditanggung puluhan tahun kedepan.

Kekayaan alam secara terus menerus dieksploitasi tanpa terkendali dan tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya. Penggerusan sumber daya alam itu terjadi secara legal maupun illegal, aktivitasnya terus berlangsung tanpa ada kontrol yang baik dari pemerintah. Keuntungan yang sangat besar yang ternyata justru tidak berdampak bagi kehidupan masyarakat disekitar tambang, lalu di manakah rasa keadilan itu, setelah banyaknya sumber daya alam kita habis di keruk?

Untuk itu dalam siaran pers bersama ini kami dengan tegas menyatakan Tolak AMDAL  dan Hentikan Keserakahan  PT.Adaro Indonesia serta menuntut pihak-pihak yang terkibat dalam proses amdal ini untuk segera menghentikan proses amdal ini karena sama sekali tidak ada prinsip keadilan yang diterima masyarakat sekitar tambang Adaro dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya.

Demikian siaran pers bersama ini untuk diperhatikan

BANJARMASIN, 6 Juni 2009

1.Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Selatan
2.LK3
3.YCHI
4.MAPALA JUSTITIA
5.LAMAS
6.Mapala Graminea
7.KOMPAS BORNEO UNLAM

Iklan

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s