Wajah Mahasiswa Dewasa ini

Aksi Demo Mahasiswa Menuntut Reformasi 1998

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun kejalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negri tercinta (mars Mahasiswa)

Mahasiswa atau bagi yang putri Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Mahasiswa Indonesia selalu menjadi poros gejolak perubahan di Republik kita sejak awal jaman kemerdekaan sampai jaman reformasi yang baru lalu, kita ingat pada awal kemerdekaan ada anak anak Prapatan 10 Penamaan ini diambil dari nama jalan di mana kelompok ini tinggal. Prapatan 10 sejatinya adalah asrama mahasiswa Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba) yang aktif memperjuangkan arah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan, juga ada pada saat itu kelompok Menteng 31, Cikini 71 yang bertujuan yg sama, lebih jauh ke belakang tentu tak dapat dikesampingkan Boedi Oetomo yang menjadi tonggak kebangkitan bangsa sebagai suatu entitas kebangsaan nasional dimana organisasi ini digerakan oleh tokoh tokoh mahasiswa dari STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dengan tokoh antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman, hal ini berlanjut sampai dengan Angkatan 66 dengan Jargon TRITURA nya yang berhasil menumbangkan Orde lama presiden Soekarno, dan yang paling gres tentu segar di ingatan kita para pejuang reformasi dikenal dengan angkatan 98 yang dengan gagah perkasa menumbangkan Soeharto dengan orde barunya, ditandai oleh pengorbanan gugurnya empat mahasiswa Trisakti sebagai martir perjuangan reformasi.
Pascareformasi, gerakan mahasiswa kehilangan gaungnya. Stigma negatif akan gerakan mahasiswa bermunculan di masyarakat. Jika dulu (1998) masyarakat ikut menyumbang logistik bagi mahasiswa yang turun ke jalan, saat ini masyarakat malah melontarkan cacian kepada gerakan mahasiswa. Berbagai alasan membentuk stigma negatif ini. Salah satu yang paling sering dilontarkan adalah, demonstrasi cuma bisa membuat jalanan macet. Sejatinya, gerakan mahasiswa adalah sebuah perjuangan untuk kepentingan rakyat. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka yang diperjuangkan merasa keberatan dengan perjuangan itu? Apa yang salah dengan gerakan mahasiswa saat ini? Apakah gerakan mahasiswa telah mengalami disorientasi peran, hal ini tentu kembali pada sifat dan pembawaan mahasiswa itu sendiri yang sudah dikenal agen perubahan dan penyambung lidah rakyat sebagai salah satu golongan masyarakat yang memiliki intelegensia dan tingkat intelektual di atas masyarakat pada umumnya.
Sifat militan dan idealisme mahasiswa berawal dan digodok di dunia kampus yang serba dinamis dan memiliki arti yang dalam di setiap dada mahasiswanya, namun dewasa ini hal tersebut kehilangan daya magisnya sebagai contoh Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) mahasiswa baru yang dimana mana dilarang dan dikekang pelaksanaannya sebagai ekses berbagai kejadian kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban, namun bukan berarti Ospek tersebut dilarang dan ditiadakan sebaiknya malah digalakkan dengan pembenahan pada pelaksanaanya karena Ospek sebagai gerbang awal mahasiswa merupakan program yang sangat bermanfaat bagi mereka yang baru melepaskan pakaian seragamnya (masa SMA) menuju dunia edukasi kebebasan yang bertanggungjawab (perguruan tinggi). Dari sinilah, mahasiswa baru dibekali semangat-semangat (value and morality spirit) tentang mahasiswa dan kampus itu sendiri. Hal yang mendasar adalah memberikan pemahaman baru kepada mahasiswa baru bahwa mengembang nama “MAHA-SISWA” bukanlah gelar biologis atau tahta Namun, “maha-siswa” merupakan gelar seorang pelajar yang secara bersamaan mengabdi dan meneliti untuk masyarakat.
Kondisi ini diperparah dengan masuknya gerakan mahasiswa pada ruang-ruang politik praktis, yang “membunuh” idealisme mahasiwa dan mengarah pada materialisme. Seperti tuntutan untuk menjatuhkan presiden dan mengusung nama calon presiden dengan isu-isu tertentu yang sangat kental dengan nuansa politik praktisnya ketimbang gerakan moral, tanpa sebuah rasionalisasi politik yang nyata. Gerakan semacam ini bukan sepenuhnya keliru, tetapi kita sudah sepakat bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan moral. Maka gerakan mahasiswa harus tetap konsisten dengan jargon dan idealisme yang diusungnya, Jangan sampai gerakan mahasiswa terkooptasi oleh kelompok atau partai politik tertentu. Sebab kalau itu yang terjadi, berarti gerakan mahasiswa telah menggali “kuburnya” sendiri. Sehingga tidak ada lagi orang yang percaya dengan gerakan mahasiswa.

Hal tersebut di atas tentu tak bisa dipisahkan dari sistem pendidikan yang berlaku di negara kita Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjunjung tinggi keadilan dan idealisme dalam mencapai manusia Indonesia yang intelektuil dan bermartabat. Para anak muda ini rata-rata ketika memasuki dunia pendidikan tinggi memiliki mimpi besar dan idealisme yang tinggi, sebut saja seorang mahasiswa hukum memiliki cita2 mulia untuk menegakan keadilan dan sistem hukum yang berpijak pada sosial kemasyarakatan yang tinggi, namun setelah lulus dihadapakan pada hukum yang berlaku sebenarnya adalah hukum yang berpijak pada uang, dan hukum positif hanya sebagai alat bagi oknum pengusaha atau penguasa untuk memenuhi kenginan mereka, sebut juga seorang mahasiswa fakultas keguruan yang bermimpi untuk menjadi guru yang mencerdasakan masyarakat kecil di pedalaman kemudian dihadapkan pada kenyataan ketiadaan fasilitas dan penghargaan yang cukup sebagai sarana mengajar di pedalaman, atau seorang mahasiswa teknik sipil yang bermimpi membangun gedung2 dan jembatan yang akan kuat berdiri selama seratus tahun namun dibuyarkan oleh praktek mark up dan korupsi yang kerap terjadi dalam proyek2 pembangunan dan masih banyak cerita serupa lainnya.
Baru baru ini terjadi kisruh pemilihan rektor di salah satu perguruan tinggi ternama di Banjarmasin yang hampir saja mengorbankan kepentingan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, hal ini tentu sangat memprihatinkan mengingat universitas sebagai institusi akademis dan pengabdian masyarakat diharapkan bebas dari politisasi elit politik yang memiliki berbagai kepentingan, sehingga tercipta kaum akademis yang peka dan lantang bersuara untuk segala isu yang menyentuh kepentingan rakyat dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia.
Sehingga patut disadari bahwa di setiap dada mahasiswa tertanam beban dan kesadaran bahwa mereka adalah bagian elemen masyarakat yang memiliki peran untuk melakukan perubahan dan perbaikan dari berbagai sistem yang korup dan rusak di negeri ini, selain tugas mereka untuk belajar dan meraih cita cita. Mengutip kata kata almarhum Soe Hok Gie “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.”

Biodata Penulis
Nama : Denny Surya Pribadi, SH
Alamat : Jl. Pontianak No 48 kel. Loktabat Selatan Banjarbaru
e-mail : mjfh120@yahoo.co.id
Profesi : Pengamat Sosial / Mantan Ketua Umum Mapala Justitia Periode 2002-2003

(mjfh138)

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s