Kembalikan Fungsi Sungai

Sungai Banjarmasin harus bebas dari sampah  agar masyarakat bisa memanfaatkannya dengan maksimal.
Sungai Banjarmasin harus bebas dari sampah agar masyarakat bisa memanfaatkannya secara maksimal.

Banjarmasin, kota berjuluk Seribu Sungai. Tidak banyak yang tahu mengapa Banjarmasin dijuluki demikian. Apakah di kota ini terdapat seribu sungai? atau hanya menggambarkan bahwa kota ini diapit oleh banyak sungai? Menurut informasi, di Kota Banjarmasin terdapat lebih dari 400 sungai dan anak sungai. Namun, sekarang hanya tinggal 195 sungai dan anak sungai. Berkurangnya jumlah sungai dan anak sungai tersebut disebabkan beberapa faktor, misalnya banyak bangunan yang berdiri di atas sungai, perilaku masyarakat yang membuang sampah ke sungai yang mengakibatkan menumpuknya sampah di sungai sehingga mengalami penyempitan, pendangkalan, dan pencemaran sungai.

Payung hukum telah dibentuk untuk melindungi sungai, adanya Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai, Perda Kota Banjarmasin No. 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Sungai serta Peraturan Walikota Banjarmasin No. 38 Tahun 2010 tentang Garis Badan Sungai. Adanya sejumlah peraturan tersebut, bertujuan untuk melindungi fungsi sungai. Namun, pengawasan atas pelaksaan peraturan di atas sangat lemah. Semisal, dalam Perda No. 2 Tahun 2007, setiap orang dilarang untuk mendirikan bangunan di atas sungai, membuang sampah/limbah ke sungai, menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan, hingga larangan untuk menggunakan alat transportasi yang melebihi bobot dan kecepatan yang telah ditentukan oleh rambu-rambu di sungai. Namun Perda tersebut lagi-lagi hanya bagaikan macan kertas. Di lapangan, banyak terjadi pelanggaran. Itu sebabnya kenapa sungai kita tercemar, hingga mengalami pendangkalan.

Mind set dan culture set masyarakat kota Banjarmasin yang masih membuang sampah ke sungai harus dirubah. Sungai sebagai sumber air, perlu dilindungi agar tidak tercemar. Penyebab pencemaran air sungai yang utama adalah air limbah dan sampah. Kecenderungan perilaku masyarakat memanfaatkan sungai sebagai tempat buangan air limbah dan sampah harus dihentikan. Tercemarnya sungai menyebabkan flora dan fauna di sungai mati. Tidak hanya itu, ongkos produksi air bersih oleh PDAM juga mengalami peningkatan, ujung-ujungnya masyarakat juga yang dirugikan karena tarif PDAM yang naik lantaran ongkos biaya produksi yang tinggi. Badan Lingkungan Hidup Daerah mencatat, kadar bakteri E Coli di sungai Banjarmasin sudah melewati ambang batas. Kandungan bakteri E Coli telah mencapai 16.000 ppp/liter. Padahal kandungan bakteri yang aman hanya 200 ppp/liter.

Sungai Sumber Kehidupan

Sejarah telah mencatat bahwa sungai di Kota Banjarmasin adalah tempat berawalnya peradaban masyarakat. Sejak dahulu sungai telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan manusia, misalnya pemanfaatan sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, perikanan, dan transportasi. Sungai tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat kota Banjarmasin, rumah-rumah penduduk dulunya menghadap ke sungai, namun sekarang berbalik. Rumah penduduk membelakangi sungai.

Fungsi sungai bagi alam adalah sebagai pendukung utama bagi kehidupan flora dan fauna sehingga menjadi poin yang sangat menentukan dan krusial. Kondisi ini wajib untuk selalu dijaga dan dipertahankan jangan sampai menurun. Oleh karena itu, sungai perlu dipelihara agar dapat berfungsi secara baik dan berkelanjutan.

 

Ditulis oleh Sopian Hadi, SH (MJFH 137)

Iklan

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s