Tambang Batu Ilegal Di Tanah Kelahiran Pecinta Alam

ajskajsBukit Pamaton,Desa Kiram,Kecamatan Aranio,Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.(dok.Gerry+Imam)

Tahura Sultan Adam yang luasnya mencapai 112.000 Ha merupakan kawasan taman hutan raya terluas di Indonesia. Kawasan ini ditetapkan berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1989. Tujuan penetapan adalah untuk pelestarian dan koleksi plasma nutfah flora dan fauna Kalimantan, sarana penelitian tipe vegetasi hutan hujan tropis, sarana pendidikan dan latihan, sarana wisata alam, memelihara keindahan alam dan menciptakan iklim mikro yang segar, serta untuk meningkatkan fungsi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kanan. Berdasarkan tujuan penetapan tersebut dapat ditarik satu benang merah bahwa fungsi besar Tahura Sultan Adam adalah sebagai kawasan konservasi. Oleh karena itu seluruh bentuk-bentuk pemanfaatan kawasan yang dilaksanakan di kawasan ini adalah dalam rangka mendukung serta mempertahankan fungsi konservasi.

Kawasan Tahura Sultan Adam juga kerap dijadikan sebagai tempat pendidikan dasar pecinta alam tingkat SMA maupun Perguruan Tinggi di Kalimantan Selatan. Selain itu daerah ini juga memiliki daya tarik wisata tersendiri untuk masyarakat umum.

sdhjkdsjh

Tempat peristirahatan para penambang batu ilegal.

dkekdn

,camn,acn

Dampak nyata pertambangan batu ilegal.(dok.Gerry+Imam)

Penambangan liar dilakukan di beberapa desa di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam yang memang banyak mengandung komoditas tambang seperti batu gunung. Hal ini mendorong sekelompok masyarakat mengandalkan pekerjaan menambang sebagai mata pencahariannya.. Mereka menggunakan alat-alat tradisional sampai semi mekanis. Salah satu lokasi tambang illegal adalah di kaki Bukit Pamaton yang termasuk dalam kawasan Desa Kiram.

Menurut penduduk sekitar yang tidak ingin disebutkan namanya, batu yang ditambang di lokasi tersebut digunakan untuk bahan material pembuatan jalan. Sungguh disayangkan batu-batu yang digunakan untuk pembuatan akses jalan yang kita gunakan sehari-hari ternyata bersumber dari wilayah konservasi seperti Tahura Sultan Adam ini.

Jika terbukti melakukan perambahan hutan untuk menambang batu maka para pelaku terancam dikenakan Pasal 78 ayat 2 junto Pasal 50 ayat 3 huruf a, b dan g UU Nomor 41 Tahun 1999 dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Bagi yang melakukan pertambangan tanpa izin, dan menampung, menggunakan, membeli hasil pertambangan tanpa izin dapat dikenakan pasal 158 UU Nomor 04/2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara, pasal 109 UU Nomor 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan pasal 160 ayat (1). Di samping itu ada juga sanksi pidana yang diatur dalam KUHP.Bagi orang atau badan hukum yang memiliki izin tidak tetapi tidak memenuhi ketentuan yang berlaku, maka dapat dikenakan pula sanksi administrasi berupa peringatan tertulis, penghentian sementara hingga pencabutan IUP, dan sanksi pidana dan denda.

Apapun alasannya penambangan di kawasan Tahura Sultan Adam adalah tidak dibenarkan karena telah melanggar peraturan perundang-undangan dan dapat diberikan sanksi yang cukup berat. Penambangan liar sedikit banyak ikut andil dalam mempercepat proses sedimentasi di Waduk Riam Kanan, sehingga dapat mengganggu kinerja turbin PLTA Ir. PM Noor. Dan apabila volume air yang masuk ke Waduk Riam Kanan tidak tertampung lagi oleh kerena kapasitas waduk yang berkurang akibat sedimentasi maka bukan tidak mungkin dinding waduk jebol seperti yang terjadi di Situ Gintung.

Begitu juga halnya dengan aktifitas illegal lainnya di kawasan ini harus segera dikendalikan supaya tidak meluas sehingga dapat menurunkan atau menghilangkan fungsi Tahura sebagai kawasan konservasi. Semestinya isu tentang jebolnya Waduk Riam Kanan beberapa tahun lalu cukup memberikan pembelajaran dan penyadaran bagi kita semua bahwa betapa pentingnya memelihara Taman Hutan Raya Sultan Adam. Barangkali kita semua sepakat bahwa kita tidak perlu menunggu jebolnya Waduk Riam Kanan seperti yang terjadi di Situ Gintung untuk menghentikan akitifitas illegal yang merusak Taman Hutan Raya Sultan Adam, yang berdampak pada kerusakan lingkungan secara luas. Sudah saatnya kita semua menyadari kita harus berbuat sesuatu sesuai kapasitas masing-masing sehingga fungsi Taman Hutan Raya Sultan Adam sebagai kawasan konservasi benar-benar dapat dipertahankan, kalau memang kita masih ingin merasakan fungsi dan manfaat Waduk Riam Kanan.

Pengelolaan Taman Hutan Raya Sultan Adam telah mengalami beberapa dinamika baik sebelum, maupun dan pasca otonomi daerah. Namun semuanya bermuara pada satu tujuan bagaimana Taman Hutan Raya Sultan Adam berfungsi dapat dimanfaatkan secara optimal tetapi sekaligus mampu mempertahankan fungsi konservasi yang melekat padanya. Dan sejak 7 Januari 2009 silam Tahura Sultan Adam dikelola oleh UPT (Unit Pelaksana Teknis) Tahura Sultan Adam, yang merupakan salah satu UPT Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang berhasil diidentifikasi pada era pengelolaan yang lalu hendaknya dijadikan pijakan untuk segera mengambil langkah strategis bagi pengelolaan yang akan datang.

Sudah saatnya tidak diberikan tempat lagi pada aktifitas-aktifitas yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan ini. Dan untuk itu semua perlu dukungan ketegasan hukum, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pengelola, mobilitas dana dan sarana prasarana, jalinan kerjasama dengan instansi-instansi pemerintah terkait, keberpihakan masyarakat, privat sector maupun lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian fungsi konservasi Tahura Sultan Adam dapat dipertahankan tanpa harus mengabaikan manfaat ekonomis yang bisa diusahakan pada zona tertentu di Tahura Sultan Adam.

Ketua Divisi Lingkungan Hidup

Mapala Justitia FH Unlam

Gerry Claudio Saputra

MJFH:12/2120173/XXVII

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s