“IDENTIFIKASI FLORA YANG MENDOMINASI DI JALUR PENDAKIAN GUNUNG AURBUNAK”

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 Tentang Pembangunan Kelompok Hutan Riam Kanan sebagai Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan luas 112.000 Ha, secara geografis terletak di antara 3º 2’ – 3º 45’ LS dan 114º 5’- 115º 10’ BT yang secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut. Tahura Sultan Adam di Kabupaten Banjar meliputi 2 Kecamatan dan 38 Desa, sedangkan di Kabupaten Tanah Laut meliputi 3 Kecamatan dan 8 Desa. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor 0155 Tahun 1990 tanggal 2 Mei 1990, telah dibentuk Badan Pengelola Tahura Sultan Adam. Yang terdiri dari berbagai Instansi terkait diantaranya Pemerintah Daerah Tingkat I, Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Banjar, Kanwil Dep. Hut, Kanwil Dep. Pariwisata, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, Fakultas Kehutanan Unlam, PLN dan BKSDA dan lain-lain.

Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh pembantu Gubernur Tingkat I Kalimantan Selatan Wilayah II. Wakil Ketua I adalah Kanwil Dephut Propinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Banjar sebagai Anggota. Dengan dimulainya Otonomi Daerah pada tahun 2001 mengakibatkan sruktur organisasi khususnya untuk Jabatan Ketua dan Wakil Ketua I sudah tidak ada lagi. Sehingga Gubernur Kalimantan Selatan memperbaharui Badan Pengelola melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No. 0283 Tahun 2003 tentang Badan Pengelola Tahura Sultan Adam.   Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan dengan Sekretaris Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan. Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Prov. Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan

Gunung Aurbunak termasuk dalam Kawasan Tahura Sultan Adam. Tepatnya di Desa Binjai, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Gunung Aurbunak merupakan salah satu Gunung di Kawasan Tahura Sultan Adam yang mempunyai ketinggian diatas 1000 mdpl. Letaknya berdekatan dengan Gunung Kahung dan Gunung Kalaan. Gunung Aurbunak yang mempunyai ketinggian 1141 mdpl ini kaya akan keanekaragaman flora karena hutannya tergolong Hutan Hujan Tropis. Seperti diketahui, Kawasan Hutan Hujan Tropis memiliki tingkat curah hujan tinggi sehingga permukaan tanahnya selalu basah dan lembab. Hal inilah yang mengakibatkan struktur tanah disekitarnya sangat subur, tanah subur ini berimplikasi pada tingkat pertumbuhan dan jenis flora yang beraneka ragam. Susunan pepohonan lebat juga merupakan karakter dari Hutan Hujan Tropis, susunan pepohonan yang membentuk kanopi ini menjadi tempat nyaman bagi tumbuhan lainnya untuk tumbuh dengan subur.

Mapala Justitia Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin yang pada tanggal 14 – 19 Mei 2015 berkesempatan untuk melakukan Ekspedisi Gunung Aurbunak. Yang pada tujuan utamanya adalah merintis jalur pendakian baru melalui Desa Binjai, disertai juga mengidentifikasi flora yang mendominasi dijalur pendakian.

Identifikasi flora yang mendominasi dijalur pendakian ini dimaksudkan untuk mengetahui dan memberikan informasi tentang flora disepanjang jalur pendakian Gunung Aurbunak. Memang tidak secara keseluruhan, tetapi identifikasi ini sangat berguna dalam menambah wawasan kepecintaalaman.

Dari pengamatan citra satelit yang dilakukan pada saat persiapan teknis di sekretariat, wilayah Gunung Aurbunak ditutupi oleh rimbunnya hutan. Pemandangan itu dapat dilihat dari kaki Gunung Aurbunak hingga mendekati puncak. Sebelum sampai kaki Gunung Aurbunak, terdapat Sabana yang membentang luas. Ternyata, pengamatan citra satelit tersebut sama dengan apa yang terlihat dari pengamatan dilapangan pada pendakian ini. Dan banyak flora yang dijumpai disekitar jalur pendakian mulai dari ketinggian 100 – 1141 mdpl.

Secara umum, disekitar jalur pendakian terdapat tumbuhan atau flora yang mendominasi pada setiap ketinggian serta pada kondisi tanah yang berbeda. Dari identifikasi lapangan yang dilakukan dengan mengamati jenis tumbuhan, bentuk tumbuhan, karakter tumbuhan, dan pengambilan foto didapat nama – nama flora disepanjang jalur pendakian ini. Diantaranya sebagai berikut :

Tabel : Identifikasi Flora ( klasifikasi tumbuhan berdasarkan ukuran, spesies, dan cara hidup )

Jenis Tumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah
POHON Meranti Sorrea sp
Ulin Eusideroxilon zwageri
Damar Aghatis dammara
Keruing Dipterocarpus retusus
Elow Ficus resmosa
PERDU Cantigi Vaccinium varingiaefolium
Murbei Morus alba L.
Karamunting/Kemunting Rhodomyrtus tomentosa
LIANA Kantong Semar Nephentes glabrata,  Nephentes mirabis
Rotan Calamus rotang
EPIFIT Anggrek Orchidaceae
Jamur Pleorotus
PAKU –  PAKUAN Dryopteris filixmas
Paku Kawat Lycopodium
Singgar Menjangan
Selaginella wildenowii
SEMAK Putri Malu Mimosa pudica
Laos/Lengkuas Alpinia galanga
LUMUT Lumut Hati Hepaticophyta

*

Berdasarkan observasi disekitar jalur pendakian pada peningkatan ketinggian, tumbuhnya flora yang disebutkan diatas tidak merata. Dapat dipahami, hampir pada setiap ketinggian ditumbuhi oleh jenis tumbuhan yang beragam tetapi akan didapati jenis tumbuhan yang terlihat dominan.

Dimulai dari Desa Binjai, Desa Binjai ini memiliki ketinggian 50 – 150 mdpl. Sepanjang jalan setapaknya mengikuti daerah aliran Sungai Tuyub. Pada ketinggian ini terdapat jenis pohon Meranti, Keruing, Ulin dengan tinggi pohon yang bervariasi antara 10 – 20 m. Tetapi tumbuhnya pohon tidak rapat, diantara tumbuhnya pohon – pohon tersebut ditumbuhi oleh semak yaitu Karamunting dan Putri Malu dan juga Ilalang.

meranti

Meranti ( Sorrea sp )

ulin

Ulin (Eusideroxilon zwageri )

keruing

Keruing ( Dipterocarpus retusus )

damar

Damar ( Aghatis dammara )

Begitu keluar dari hutan di Desa Binjai, terdapat vegetasi padang Sabana yang cukup luas. Padang Sabana ini kira – kira mencapai 2 km hingga kaki Gunung Aurbunak pada ketinggian 100 – 180 mdpl. Sabana adalah padang rumput yang dipenuhi oleh semak dan beberapa pepohonan. Padang Sabana ini ditumbuhi oleh rumput dan Karamunting. Akan tetapi Sabana disini terlihat berbeda, pohon Karamunting sangat mendominasi sehingga hanya sedikit tempat lapang yang hanya ditumbuhi oleh rumput. Karamunting ini mempunyai ketinggian 1 – 2 m.

karamunting

Karamunting ( Rhodomyrtus tomentosa )

laos

Laos/Lengkuas ( Alpinia galanga )

putri malu

Putri Malu ( Mimosa pudica )

rotan

Rotan ( Calamus rotang )

Setelah melewati luasnya padang Sabana dan memasuki hutan di Kaki Gunung Aurbunak pada ketinggian 200 – 300 mdpl. Suasana lembab sangat terasa, dapat dilihat dari struktur tanah sedikit basah yang ditutupi oleh daun – daun mati. Sinar matahari yang sampai ketanah pada siang hari hanya sedikit, karena tertutupi oleh pepohonan yang tinggi. Dari pengamatan pada ketinggian dijalur ini, beberapa pohon yang ditemui adalah pohon Meranti, Ulin dan Damar. Tumbuhnya pohon – pohon ini sudah mulai sedikit rapat, begitu juga tumbuhan disekitarnya yang dipenuhi anakan pohon dan jenis tumbuhan Liana.

Liana adalah tumbuhan merambat yang tumbuh secara memanjat pada pohon lain disekitarnya. Tumbuhan Liana yang banyak ditemui adalah Rotan yang mempunyai diameter 1 – 5 cm. Didaerah pinggiran sungai pada jalur pendakian ini banyak ditumbuhi tumbuhan Laos. Tidak jarang terdapat Anggrek yang tumbuh pada pohon besar yang masih hidup ataupun mati.

Pada ketinggian 300 – 600 mdpl struktur tanah sangat labil disebagian tempat, hal ini dapat dilihat dari gemburnya tanah yang dilewati. Terutama pada pinggiran sungai sepanjang jalur pendakian, sangat mudah sekali tanahnya longsor. Dari ketinggian ini, pohon Meranti kira – kira dapat tumbuh mencapai 20 m. Anakan pohon juga banyak dijumpai, Rotan dan semak berduri lainnya memenuhi disela – sela pepohonan tersebut. Pada setiap jalur sungai yang kami lalui hanya terdapat beberapa tumbuhan Liana yang menggantung diantara anakan pohon lainnya. Jika beruntung dan teliti, pada jalur ini akan menemukan buah hutan yaitu buah Murbei dan buah Elow.

Memang tumbuhnya buah Murbei dan buah Elow ini tidak disepanjang jalur pendakian, akan tetapi hal ini mengindikasikan bahwa ada buah hutan lainnya yang tumbuh di daerah Gunung Aurbunak. Ciri – ciri buah Murbei sudah matang adalah perubahan warnanya yang berubah dari merah ke ungu gelap. Jika sudah matang buah Murbei ini berasa manis, berbeda dengan yang masih berwarna merah terasa asam. Buah Murbei termasuk dalam jenis Berry.

murbei

Murbei (Morus alba L.)

elow

Elow ( Ficus resmosa )

Berdasarkan pengalaman pendakian Gunung tinggi di Kalimantan Selatan yang rata – rata hanya memiliki ketinggian 1000 – 1900 mdpl, ketinggian 300 – 600 mdpl sangat cocok dipilih sebagai tempat Flying Camp. Karena pada ketinggian ini masih terdapat beberapa kontur tanah yang landai. Contohnya Flying Camp 2 pada pendakian ini pada ketinggian 300 mdpl dan Flying Camp 3 pada ketinggian 580 mdpl. Masih terdapatnya sumber air itu adalah alasan utama, terlebih pada Ekspedisi yang belum mengetahui keadaan sekitar gunung secara langsung. Ternyata memang benar, memasuki ketinggian 700 – 1000 mdpl tidak ada tempat yang landai dan cocok. Kemiringannya kira – kira mencapai 30º – 40º yang membuat pendakian harus menggunakan bantuan tangan karena harus memanjat. Kondisi kontur tanah yang curam ini ditambah lagi oleh banyaknya batu – batu besar disekitar jalur semakin mempersulit pergerakan. Pada kondisi tertentu juga terpaksa memanjat batu – batu tersebut untuk melanjutkan pendakian.

Pohon – pohon besar pada ketinggian ini tidak sebanyak dan serapat dibandingkan pada ketinggian sebelumnya. Hanya saja anakan pohon dan semak dapat tumbuh dengan suburnya, Rotan beserta tumbuhan Liana semakin banyak. Pemandangan seperti ini sangat jarang dijumpai, sehingga menimbulkan pertanyaan. Mengapa Rotan masih bisa tumbuh subur pada ketinggian lebih dari 900 mpdl ? Bahkan tumbuhan Rotanlah yang mendominasi pada ketinggian ini, tumbuhan lain seperti jenis Paku – Pakuan hampir jarang ditemui. Seharusnya tumbuhan Paku – Pakuan yang ditemui, hal itu jika dilihat pada gunung – gunung lain yang vegetasi umum dan dominannya ditumbuhi Paku – Pakuan jika ketinggian hampir mencapai puncaknya. Dari keadaan yang ada, kemungkinan yang terjadi struktur tanah masih mendukung untuk tumbuhnya Rotan dan tumbuhan Liana lainnya, tetapi hanya pada Gunung Aurbunak ini.

dvsdv

Rhodomyrtus tomentosa

paku kawat

Paku Kawat ( Lycopodium sp )

lumut hati

Lumut Hati ( Hepaticophyta )

paku

Dryopteris filixmas

biru

Selaginella willdenowii

anggrek

Cantigi (Vaccinium varingiaefolium )

Vegetasi lumut dan Paku – Pakuan baru akan ditemui kira – kira pada ketinggian 980 mdpl. Jenis Lumut yang tumbuh tidak banyak begitu juga jenis Paku – Pakuan. Dari pengamatan ada beberapa Paku – Pakuan yang sering ditemui, yaitu Dryopteris Filixmas, Lycopodium, Singgar Menjangan, dan Selaginella Wildenowii. Sampai pada ketinggian 1000 mdpl hingga puncak 1141 mdpl, tumbuhan yang banyak ditemui tentu saja Kantong Semar. Ada 2 jenis Kantong Semar yang sering terlihat di jalur pendakian menuju puncak. Yaitu Nephentes glabrata dan Nephentes mirabis. Pada puncak gunung Aurbunak juga terdapat tumbuhan Cantigi.  Cantigi merupakan tumbuhan kerdil yang dapat dimakan dengan cara direbus, tetapi hanya pada bagian pucuknya yang berwarna merah muda saja.

kantonh semar

Kantong Semar ( Nephentes glabrata )

kantong smar

Kantong Semar ( Nephentes mirabis )

Dengan observasi yang dilakukan disepanjang jalur pendakian  Ekspedisi Aurbunak ini sudah dapat diketahui bahwa jenis tumbuhan yang mendominasi di Gunung Aurbunak pada setiap ketinggian berbeda – beda penyusun vegetasinya. Tetapi ada juga beberapa tumbuhan yang dapat tumbuh pada setiap peningkatan ketinggian. Kesimpulannya Gunung Aurbunak menjadi salah satu gunung yang mempunyai keanekaragaman flora Hutan Hujan Tropis. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk tetap menjaga keutuhan dan kelestariannya. Bukan sekedar untuk dinikmati dan dimanfaatkan dalam arti materi, tetapi lebih untuk mempertahankan atau menciptakan keseimbangan ekosistem di Gunung Aurbunak ini serta  Kawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam keseluruhan.

MJFH  171

BRAVO JUSTITIA !!!

Iklan

Silahkan Tulis Komentar/Saran/Kritik Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s