Rehabilitasi Terumbu Karang Pesisir Pantai Pulau Kerayaan

DCIM101GOPROGOPR8194.

(Dok Tim RTK MJFH/5/5/17)

Terumbu karang merupakan rumah bagi 25 % dari seluruh biota laut dan merupakan ekosistem di dunia yang paling rapuh dan mudah punah. Oleh karena itu pengelolaan ekosistem terumbu karang demi kelestarian fungsinya sangat penting. Terumbu karang Indonesia menurut Tomascik, 1997 mempunyai luas kurang lebih 85.707 km², yang terdiri dari fringing reefs 14.542 km², barrier reefs 50.223 km², oceanic platform reefs 1.402 km², dan attols seluas 19.540 km². Terumbu karang telah dimanfaatkan oleh masyarakat melalui berbagai cara.

Akhir-akhir ini penangkapan biota dengan cara merusak kelestarian sumber daya, seperti penggunaan bahan peledak atau zat kimia beracun (potassium sianida) telah terjadi di seluruh perairan Indonesia. Terumbu karang dan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang bernilai tinggi. Manfaat yang terkandung di dalam ekosistem terumbu karang sangat besar dan beragam, baik manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Manfaat langsung antara lain sebagai habitat ikan dan biota lainnya, pariwisata bahari, dan lain-lain. Sedangkan manfaat tidak langsung, antara lain sebagai penahan abrasi pantai, dan pemecah gelombang.

Adapun tujuan kegiatan Rehabilitasi Terumbu Karang Pesisir Pantai Pulau Kerayaan untuk melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya sumber daya terumbu karang serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan, memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil agar tercapai keadilan, keseimbangan dan keberlanjutan. Terpeliharanya kelestarian ekosistem terumbu karang sebagai basis penunjang pemanfaatan sumber daya ikan berkelanjutan. Tercapainya pemanfaatan sumber daya ikan dan ekosistem terumbu karang secara rasional guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terciptanya sistem dan mekanisme pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat, dan terciptanya kepastian hukum dalam pemanfaatan potensi ekonomi dan jasa lingkungan ekosistem terumbu karang.

_MG_8730

(Dok Tim RTK MJFH/5/5/17)

Sumber bibit yang digunakan untuk melakukan transplantasi terumbu karang dapat bersumber dari pengambilan koloni di habibat alam. Sumber bibit berasal dari terumbu karang yang masih hidup diterumbu karang. Bibit yang dapat diambil untuk transplantasi adalah bibit transplantasi yang dalam keadaan sehat (utuh dan tidak mengelupas). Lokasi pengambilan bibit bambu laut di lokasi yang populasinya masih melimpah dan tidak terlalu jauh dari lokasi transplantasi, bibit transplantasi diambil dari kawasan dengan kondisi yang semirip mungkin dengan lokasi transplantasi, menggunakan patahan yang masih hidup sebagai sumber bibit transplantasi, pengambilan bibit karang maksimal 10% dari satu populasi dan bagian karang yang diambil adalah pada bagian ujung dan tengah koloni.

Secara umum kegiatan rehabilitasi ini menghasilkan sebuah model pencangkokan pada suatu lokasi terumbu karang di Desa Pulau Kerayaan dan memberikan pemahaman lebih dan segala aturan hukum yang mengatur akan pentingnya terumbu karang baik bagi masyarakat setempat maupun bangsa Indonesia pada umumnya.

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam Pasal 37 menyebutkan taman wisata alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penyimpanan dan/atau penyerapan karbon, pemanfaatan air serta energi air, panas, dan angin serta wisata alam, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya, pembinaan populasi dalam rangka penetasan telur dan/atau pembesaran anakan yang diambil dari alam dan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat setempat.

_MG_8674

(Dok Tim RTK MJFH/5/5/17)

Rehabilitasi terumbu karang dilakukan dengan cara pengayaan sumber daya hayati, perbaikan habitat, dan ramah lingkungan.  Pelaksana Kegiatan Rehabilitasi Terumbu Karang Pesisir Pantai Pulau Kerayaan melakukan pengayaan sumber daya hayati terumbu karang sebagaimana dilakukan dengan cara transplantasi. Transplantasi sebagaimana dimaksud dilakukan dengan cara pencangkokan bibit karang yang ditanam/ditempelkan pada media substrat antara lain berupa beton atau patok besi.

_MG_4348

(Dok Tim RTK MJFH/5/5/17)

Sosialisasi kegiatan Rehabilitasi Terumbu Karang ini ditujukan kepada masyarakat serta seluruh jajaran Pemerintah Desa dan Lembaga/Kelompok yang ada di Desa Pulau Kerayaan. Sosialisasi kegiatan ini dimaksudkan agar kegiatan ini dapat diterima dengan baik dan didukung penuh oleh segenap pihak yang ada di Desa Pulau Kerayaan, sehingga kegiatan ini benar-benar dapat memberikan masukan dan keluaran serta manfaat. Selain Sosialisasi kegiatan, Pelaksana juga melakukan penyuluhan terkait aturan hukum mengenai pengaturan umum terumbu karang dan ancaman hukuman bagi setiap orang yang melanggar ketentuan larangan. Penyuluhan hukum ini juga memberikan pemahaman akan pentingnya Peraturan Desa yang mengatur terkait perlindungan dan pengelolaan ekosistem terumbu karang.

_MG_4390

(Dok Tim RTK MJFH/5/5/17)

Hasil kegiatan Rehabilitasi Terumbu Karang Pesisir Pantai Pulau Kerayaan Kecamatan Pulau Laut Kepulauan Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan yaitu terciptanya sistem dan mekanisme pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat, merehabilitasi ekosistem terumbu karang yang telah mengalami kerusakan, terbentuknya Kelompok Masyarakat Peduli Terumbu Karang (MPTK) Desa Pulau Kerayaan, terbentuknya Rancangan Peraturan Desa tentang Perlidungan dan Pengelolaan Terumbu Karang Desa Pulau Kerayaan dan terbangunnya kesadaran hukum pada masyarakat dan segenap lembaga pemerintah dan kelompok Desa Pulau Kerayaan untuk saling mengimbau dalam rangka mencegah dan menghentikan penggunaan bahan peledak atau bahan berbahaya dan beracun serta alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan di habitat terumbu karang. Kegiatan ini setidaknya memberikan wadah bagi pelaksana dan masyarakat untuk mengembangkan minat terhadap kepedulian baik dalam segi implementasi aturan hukum terkait maupun sosial kultur yang memperhatikan kelangsungan ekosistem terumbu karang. Sementara juga berdampak dalam menunjang bakat yang dimiliki dalam olahraga snorkeling.

Pemeliharaan rehabilitasi dengan menjaga keserasian siklus alamiah komponen abiotik terumbu karang dilakukan dengan cara penyiangan terumbu karang dari sedimen dan sampah.  Pemeliharaan rehabilitasi dengan menjaga dan mempertahankan keseimbangan lingkungan fisik terumbu karang, dilakukan dengan cara menjaga kualitas air dari pencemaran dan sedimentasi.  Program rehabilitasi terumbu karang Pulau Kerayaan ini diserahkan kepada Pemerintahan Desa (Pemerintah Desa, BPD, dan Lembaga Desa) untuk melakukan pemeliharaan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Selain itu, pengawasan rehabilitasi dengan mempertahankan dan menjaga kondisi terumbu karang dari pengaruh alam atau kegiatan masyarakat, dilakukan dengan cara pencegahan dan pengendalian pencemaran, pencegahan dan pengendalian penambangan karang dan peranan pengawasan dari pemerintahan desa (Pemerintah Desa, BPD, dan Lembaga Desa).

Kegiatan Rehabilitasi Terumbu Karang Pulau Kerayaan ini sangat menekankan peran serta masyarakat yang merupakan kepedulian dan keterlibatan masyarakat secara fisik atau non fisik, langsung atau tidak langsung, atas dasar kesadaran sendiri atau akibat peranan pembinaan dalam pengelolaan wilayah pesisir khususnya ekosistem terumbu karang. Dalam hal ini pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan upaya pemberian fasilitas, dorongan, atau bantuan kepada masyarakat dan nelayan tradisional agar mampu menentukan pilihan yang terbaik dalam memanfaatkan sumber daya pesisir lestari.

   Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru Nomor 14 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Terumbu Karang Di Kabupaten Kotabaru yang mengatur tentang ekosistem terumbu karang, setiap orang dilarang melakukan perbuatan menangkap ikan karang dengan cara yang dapat menimbulkan gangguan terhadap terumbu karang, membuang sauh/labuh/lego jangkar di lokasi terumbu karang atau di kawasan konservasi, konversi lahan pesisir yang dapat mengakibatkan sedimentasi yang mengancam kelestarian terumbu karang, reklamasi pantai tanpa melalui sistem dan mekanisme perizinan sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memasuki daerah/zona inti terumbu karang, merusak ekosistem terumbu karang, menambang dan mengambil terumbu karang dengan cara tidak ramah lingkungan yang menimbulkan kerusakan ekosistem terumbu karang, mengambil terumbu karang di kawasan konservasi, menggunakan bom, racun, dan bahan lain yang dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan terumbu karang, pencemaran laut dan membuang sampah dan Kegiatan tertentu yang dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan terumbu karang.

Desa Pulau Kerayaan Kecamatan Pulau Laut Kepulauan Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan merupakan desa yang wilayah administratifnya pada kategori pulau kecil dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, dengan visi sebagai desa sentra perdagangan, dan pulau wisata dengan dasar nilai agama dan kultur budaya yang luhur.

Bahwa dalam rangka melindungi dan mengelola ekosistem terumbu karang yang merupakan kekayaan alam Indonesia dengan secara tidak langsung memberikan tugas bagi setiap orang, khususnya Organisasi Mapala Justitia FH Unlam Banjarmasin untuk bergerak terjun ke lapangan dengan membawa bekal pengetahuan dan pengalaman dari perguruan tinggi Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat  baik dari segi sosialisasi dan penyuluhan hukum maupun implementasi rehabilitasi terumbu karang yang mengalami degradasi.

Bahwa teramat penting untuk kita terus bergerak dan memperhatikan kondisi lingkungan hidup, sosial ekonomi dan budaya sekitar. Termasuk Desa Pulau Kerayaan yang beberapa tahun terakhir ekosistem lautnya khususnya ekosistem terumbu karang mengalami pemerosotan kualitas dan kuantitas, maka sudah sewajarnya individu warga masyarakat setempat atau daerah lain yang datang serta instansi dan institusi terkait agar benar-benar menjunjung tinggi nilai konservasi Desa Pulau Kerayaan sebagai Desa Pulau Taman Wisata Laut (TWL) sebagaiman sudah termaktub dalam ketentuan perundang-undangan baik dari segi tata ruang maupun konservasi sumber daya alam hayati.

Iklan

KAMI MENCINTAI ALAM KARENA TANPA ALAM KAMI BUKAN APA-APA